Tokoh Spiritual yang Mampu Menarik Jutaan Jama’ah, Dikenal Dekat dengan Berbagai Kalangan Termasuk Gus Dur.
WWW.ARUSKAHAYAN.COM, MARTAPURA, – Nama KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, atau yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul, identik dengan Majelis Taklim yang luar biasa. Semasa hidupnya, beliau dikenal bukan hanya sebagai seorang ulama, tetapi sebagai penggerak utama spiritualitas di Kalimantan Selatan, mengubah kawasan Sekumpul, Martapura, menjadi pusat cahaya ilmu agama Islam.
Dikenal luas sebagai keturunan dari ulama besar Datu Kalampayan (Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari), Abah Guru Sekumpul membawa warisan keilmuan yang mendalam. Majelis yang beliau pimpin tidak hanya dihadiri oleh masyarakat sekitar Banjar, tetapi menarik Jutaan jamaah dari berbagai pelosok Kalimantan, bahkan dari pulau-pulau lain.
Keistimewaan majelis beliau terletak pada penyampaian yang teduh, mudah dicerna, namun tetap sarat makna tasawuf dan akhlak. Beliau menekankan pentingnya cinta kepada Rasulullah Baginda Nabi Muhammad saw dan para wali, serta membersihkan hati dari sifat tercela.
“Sekumpul menjadi wadah bagi umat untuk menimba ilmu. Pesan beliau selalu berpusat pada akhlak yang mulia, menjauhi riya’, dan mengutamakan mahabbah (cinta) kepada Allah dan Rasul-Nya,” tutur salah satu murid senior beliau.
Pengaruh Abah Guru Sekumpul melampaui batas demografi. Beliau mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat—dari rakyat biasa, pejabat tinggi, hingga tokoh nasional seperti Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—dalam satu lingkaran ilmu.
Kehadiran Gus Dur dan banyak tokoh lainnya di Sekumpul menjadi bukti bahwa nasihat dan wejangan beliau dihormati tanpa memandang latar belakang. Beliau sering kali diminta nasihat oleh masyarakat yang datang kepadanya, menunjukkan peran beliau sebagai sosok penengah spiritual dan sosial.
Walaupun beliau wafat pada 10 Agustus 2005, semangat majelis beliau terus hidup melalui ribuan murid dan jamaahnya. Nasihat-nasihat yang beliau sampaikan selalu menjadi pedoman utama, terutama 10 Wasiat yang paling sering dikutip, termasuk:
- Hormati Orang Tua mu.
- Hormati Para Ulama.
- Murah diri, murah hati, manis muka.
- Jangan merasa baik dari orang lain.
- Banyak-banyak sabar apabila mendapat musibah, banyak-banyak bersyukur apabila mendapat nikmat.
Nasihat tersebut menjadi fondasi akhlak bagi umat Islam di Kalimantan, menegaskan bahwa warisan terbesarnya adalah ilmu dan petunjuk yang beliau tinggalkan. Bulan depan Haul Beliau akan kita gelar kembali, semoga pian barataan kawa datang. (545)
