PALANGKA RAYA SUARA RAKYAT

​Di Tengah Kepungan Asap Ekstrem, Kebijakan Masuk Sekolah Dinilai ‘Menumbalkan’ Kesehatan

WWW.ARUSKAHAYAN.COM, PALANGKARAYA, – Kebijakan tetap diberlakukannya pembelajaran tatap muka di tengah kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangkaraya dan sekitarnya menuai kritik keras. Kebijakan dari para kepala sekolah, Dinas Pendidikan, serta instansi terkait ini dinilai mengabaikan faktor keselamatan jiwa serta kesehatan civitas akademika.

​Sasongko Yuwono dari Lembaga Sandi Borneo Indonesia (SBI) menyayangkan sikap para pengambil kebijakan yang terkesan memaksakan siswa dan tenaga pendidik untuk tetap turun ke sekolah di bawah ancaman paparan polusi ekstrem.

​”Sangat disayangkan kebijakan dari kepala sekolah, Dinas Pendidikan, serta dinas terkait yang masih menganjurkan siswa didik turun ke sekolah. Wajar jika mereka tidak memiliki anak sehingga tidak merasakan kekhawatiran orang tua,” tegas Sasongko.

​Ia juga menyoroti nasib para guru yang diwajibkan hadir tanpa perlindungan ekstra. Menurutnya, tenaga pengajar adalah manusia biasa yang rentan terhadap ancaman penyakit.

​”Pikirkan juga kondisi guru-guru pengajar yang wajib hadir dalam situasi buruk ini. Mereka bukan Hulk atau Spiderman yang kebal terhadap kondisi alam ekstrem,” lanjutnya.

​Lebih jauh, Sasongko menilai bahwa memaksakan aktivitas luar ruangan di tengah ancaman polusi udara merupakan tindakan yang sangat memprihatinkan dan mengorbankan kesehatan publik demi formalitas semata.

​”Menumbalkan kesehatan anak didik dan guru itu adalah perbuatan keji, hanya demi melanggengkan atau menguntungkan sebuah program yang padahal sumber pembiayaannya berasal dari pajak masyarakat,” pungkasnya.

Senator Kalteng Desak Opsi Belajar dari Rumah (BDR)

​Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Anggota DPD RI (Senator) asal Kalteng, Habib Said Abdurrahman, mendesak pemerintah daerah untuk segara menerapkan skema Belajar dari Rumah (BDR).

​Langkah ini dinilai menjadi solusi mendesak guna menekan angka kesakitan akibat paparan debu dan partikel berbahaya. Menurut Habib Said Abdurrahman, keselamatan fisik dan kesehatan paru-paru generasi muda serta pendidik harus diprioritaskan di atas pemenuhan program presensi fisik sekolah.

Kualitas Udara dan Tren Kasus ISPA

​Pantauan indikator polusi udara dan dampak kesehatan per tanggal 13 September 2026 menunjukkan status bahaya yang terus bertahan di wilayah Palangkaraya dan sekitarnya:

Indikator

Catatan & Angka

Status

Konsentrasi PM2.5

Memasuki rentang 200 – 300+ µg/m³

Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)

Mengindikasikan kategori Sangat Tidak Sehat / Unhealthy

Jarak pandang terbatas & bau menyengat

Pasien Terinfeksi (ISPA)

Meningkat tajam hingga ribuan kasus terpapar dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir

Didominasi balita, anak sekolah, dan lansia

Melihat memburuknya indikator lingkungan dan kesehatan ini, desakan agar sekolah diliburkan secara tatap muka dan dialihkan ke mode daring/BDR diharapkan dapat segera diakomodasi oleh pemerintah daerah demi mencegah dampak jangka panjang polusi kabut asap. 545

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *