PALANGKA RAYA

Waspada Virus Nipah !!! Dinkes Palangka Raya Pastikan Wilayah Masih Aman: Jangan Makan Buah Bekas Gigitan Hewan!

Share:

WWW.ARUSKAHAYAN.COM, PALANGKARAYA,- Di tengah perbincangan global mengenai ancaman penyakit zoonosis, Pemerintah Kota Palangka Raya bergerak cepat memberikan klarifikasi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya memastikan bahwa hingga saat ini, nol kasus virus Nipah ditemukan di wilayah “Kota Cantik”.

Meskipun status kesehatan masyarakat dikategorikan Aman, warga diminta untuk tidak abai terhadap pola hidup bersih, mengingat virus ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup serius.


Apa Itu Virus Nipah? Siapa Pembawanya?

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, menjelaskan bahwa virus Nipah adalah penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

  • Inang Alami: Kelelawar pemakan buah (Pteropodidae).

  • Cara Penularan: Awalnya antarhewan, namun kini bisa melompat dari hewan ke manusia.

  • Target Serangan: Sistem pernapasan dan sistem saraf pusat (otak).

“Sampai saat ini belum ada informasi atau laporan yang masuk ke kami terkait adanya virus tersebut di Palangka Raya. Namun, kami terus bersiaga dari sisi kesehatan manusia,” tegas Riduan, Kamis (29/1/2026).


Kenali Gejalanya: Dari ISPA hingga Radang Otak

Infeksi virus Nipah tidak bisa disepelekan. Gejalanya sangat bervariasi, bahkan ada yang tanpa gejala (asimptomatis). Berikut tanda-tanda yang perlu diwaspadai:

  1. Gejala Awal: Demam, sakit kepala hebat, nyeri otot (mialgia), muntah, dan nyeri tenggorokan.

  2. Kondisi Berat: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berat.

  3. Kondisi Fatal: Ensefalitis atau peradangan otak yang bisa berujung fatal.


Data & Fakta: Mengapa Kita Harus Waspada?

Melihat ke belakang, kewaspadaan terhadap virus Nipah di Indonesia telah diperketat sejak tahun 2024. Berikut adalah konteks pendukungnya:

  • Tahun 2024: Kemenkes RI meningkatkan surveilans di pintu masuk negara (bandara dan pelabuhan) setelah adanya outbreak di beberapa negara Asia Selatan. Indonesia dikategorikan sebagai wilayah berisiko karena populasi kelelawar buah yang tersebar luas.

  • Tahun 2025: Pemerintah memperkuat kolaborasi One Health antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian di seluruh daerah untuk memantau lalu lintas hewan ternak (seperti babi) yang bisa menjadi inang perantara.

  • Tingkat Kematian: Menurut data WHO, Case Fatality Rate (CFR) virus Nipah diperkirakan mencapai 40% hingga 75%, menjadikannya salah satu virus yang paling dipantau secara ketat di dunia.


Tips Anti-Nipah: Langkah Praktis untuk Warga

Riduan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik berlebihan, namun wajib memperkuat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

  • Jangan Sharing dengan Hewan: Hindari mengonsumsi buah-buahan yang sudah ada bekas gigitan hewan (kelelawar/tupai).

  • Kontak Fisik: Hindari kontak langsung dengan hewan peliharaan atau ternak yang tampak sakit.

  • Booster Imun: Jaga daya tahan tubuh dengan nutrisi optimal dan istirahat cukup.

“Kami berkomitmen untuk memberikan informasi secara transparan jika ditemukan gejala klinis mencurigakan di lapangan agar pencegahan bisa dilakukan sedini mungkin,” pungkas Riduan.

Sebagai informasi tambahan, penanganan pasien virus Nipah biasanya dilakukan di ruang isolasi khusus dengan protokol APD (Alat Pelindung Diri) tingkat tinggi oleh tenaga medis, karena virus ini dapat menular melalui cairan tubuh dan memiliki tingkat risiko kematian yang cukup tinggi. Di Indonesia, pemerintah terus melakukan pemantauan ketat melalui rumah sakit rujukan untuk mengantisipasi potensi penyebaran virus ini.(545)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *