KALTENG KAPUAS

Perkuat Jati Diri Bangsa, Habib Said Abdurrahman Gelar Sosialisasi 4 Pilar di Kapuas

Share:

WWW.ARUSKAHAYAN.COM, KAPUAS,- Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Habib Said Abdurrahman, menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah dinamika zaman yang kian kompleks. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang berlangsung di Pusat Pendidikan Majelis Pecinta Rasul Al-Wasilah, Desa Maluen, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, Jumat (13/3/2026).

Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB ini dihadiri oleh peserta yang terdiri dari pemuda-pemudi Kabupaten Kapuas serta berbagai perwakilan Organisasi Kepemudaan (OKP) dari Kalimantan Tengah.

Dalam pemaparannya, Habib Said Abdurrahman menegaskan bahwa Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan fondasi utama yang menjaga eksistensi Indonesia.

“Generasi muda adalah garda terdepan dalam merawat kebinekaan. Melalui sosialisasi ini, kita ingin memastikan bahwa nilai-nilai kebangsaan tetap hidup dalam sanubari pemuda di Kalimantan Tengah, khususnya di Kapuas,” ujar Habib Said di hadapan peserta.

Ia juga menambahkan bahwa Pusat Pendidikan Majelis Pecinta Rasul Al-Wasilah dipilih sebagai lokasi strategis agar nilai-nilai religiositas dan nasionalisme dapat berjalan beriringan secara harmonis.

Turut hadir sebagai pembicara kedua, Sasongko Yuwono, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Eksternal PW IKA PMII Kalimantan Tengah. Dalam materinya, Sasongko menyoroti peran pemuda dalam menghadapi tantangan global dengan berpegang teguh pada ideologi negara.

Pemuda harus menjadi agen perubahan yang cerdas. Memahami Empat Pilar berarti memiliki kompas untuk melangkah, agar tidak mudah terprovokasi oleh paham-paham yang dapat memecah belah bangsa,” tegas Sasongko.

Sasongko Yuwono menekankan bahwa untuk menjadi mitra strategis pemerintah dan pilar pembangunan yang kokoh, pemuda tidak cukup hanya memiliki semangat, tetapi harus dibekali dengan ketajaman berpikir kritis. Berikut adalah poin-poin utama materi tersebut:

Di era banjir informasi, pemuda Kapuas diharapkan tidak menjadi konsumen informasi yang pasif. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk membedakan antara fakta, opini, dan disinformasi. Dengan nalar yang kritis, pemuda tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah persatuan, sehingga peran mereka sebagai penjaga stabilitas daerah tetap terjaga.

Sebagai mitra pembangunan, pemuda harus mampu menelaah kebijakan publik secara objektif. Sasongko menjelaskan bahwa berpikir kritis memungkinkan pemuda untuk:

  • Menganalisis Masalah: Menemukan akar permasalahan di masyarakat (khususnya di Kabupaten Kapuas).

  • Memberi Solusi: Bukan sekadar mengkritik tanpa dasar, tetapi memberikan saran yang berbasis data dan inovasi demi kemajuan daerah.

Pemuda yang tergabung dalam organisasi kepemudaan harus memiliki independensi intelektual. Critical thinking melatih pemuda untuk tidak terjebak dalam “ikut-ikutan” (herd mentality). Hal ini penting agar organisasi kepemudaan di Kalimantan Tengah menjadi wadah pemikiran yang progresif dan mampu melahirkan pemimpin masa depan yang berintegritas.

Sasongko menggaris bawahi bahwa memahami Pancasila dan UUD 1945 memerlukan nalar kritis agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai hafalan. Pemuda harus mampu mengontekstualisasikan nilai kebangsaan dalam tantangan zaman, seperti isu lingkungan, ekonomi kreatif, dan keadilan sosial di tingkat lokal.


Kemampuan berpikir kritis adalah “senjata” utama bagi pemuda Kapuas untuk naik kelas dari sekadar objek pembangunan menjadi subjek (pelaku) pembangunan. Dengan nalar yang sehat, pemuda akan menjadi pilar yang mampu menopang keutuhan bangsa sekaligus menjadi mitra yang disegani dalam proses akselerasi pembangunan di Kalimantan Tengah.

Kegiatan berlangsung interaktif hingga pukul 17.00 WIB. Para peserta tampak antusias melontarkan pertanyaan terkait implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan cara menangkal radikalisme di lingkungan pemuda.

Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan para pemuda di Kabupaten Kapuas dapat menjadi motor penggerak dalam menyebarkan semangat toleransi dan cinta tanah air di lingkungan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *