WWW.ARUSKAHAYAN.COM, PALANGKARAYA,- Wajah Kota Palangka Raya di ambang transformasi besar. Dalam sebuah diskusi hangat bertajuk “Diskusi Pinggiran” yang diinisiasi oleh Sandi Borneo Indonesia (SBI) bersama Abdurrahman Center (HSA Center) , sejumlah tokoh muda dan aktivis lingkungan mengupas tuntas arah pembangunan kota menuju modernisasi yang tetap berpijak pada kearifan lokal.
Hadir dalam diskusi tersebut Sasongko dari SBI, M. Rahman dan Hefi dari HSA Center, serta perwakilan Arus Kahayan, Bung Qurniawan dan Bung Suprapto. Pertemuan ini menyoroti bagaimana Palangka Raya harus bersiap menjadi penyukong utama Ibu Kota Nusantara (IKN) melalui penataan kawasan yang lebih maju.
Paradigma Baru: Menata Tanpa Menggusur
Salah satu topik krusial yang dibahas adalah penanganan pemukiman di sepanjang bantaran Sungai Kahayan. Bung Qurniawan dari Arus Kahayan menekankan bahwa modernisasi tidak boleh mengorbankan masyarakat kecil yang telah lama bermukim di sana.
“Pemerintah saat ini sudah mulai bergeser ke arah yang lebih humanis. Kita tidak lagi bicara soal penggusuran massal, melainkan relokasi frekuensi dan revitalisasi di tempat ( in-situ ),” ungkapnya dalam diskusi tersebut.

Rusun Rumah Lanting: Solusi Masa Depan
M. Rahman dari HSA Center menambahkan bahwa konsep perumahan vertikal atau Rumah Susun (Rusun) di tepi sungai menjadi solusi yang paling realistis untuk mengatasi keterbatasan lahan.
“Rencananya, rusun ini tidak akan kaku seperti di kota besar lainnya. Desainnya akan mengadaptasi filosofi Rumah Lanting . Tujuannya agar warga tetap dekat dengan sumber mata pencahariannya di sungai, namun tetap tinggal di perumahan yang sehat dan legal secara hukum,” jelas Rahman.
Kota Tepi Laut dan Ekonomi Rakyat
Diskusi juga menyepakati bahwa proyek Waterfront City (WFC) harus menjadi lokomotif ekonomi baru bagi warga lokal. Penataan kawasan mulai dari Jembatan Kahayan hingga Pelabuhan Rambang diproyeksikan tidak hanya untuk mempercantik kota, tetapi juga menghidupkan sektor UMKM melalui wisata kuliner dan budaya.
Sasongko dari SBI mengingatkan pentingnya aspek hukum, khususnya implementasi Perda Prov. Kalteng No. 4 Tahun 2021 tentang Garis Sempadan Sungai. “Kita ingin mencegah munculnya bangunan baru, namun di sisi lain kita harus memberikan kepastian ekonomi bagi 58% warga yang menurut kajian sudah siap ditata demi kemajuan kota,” tegasnya.
Catatan Strategis untuk IKN
Sebagai penutup, diskusi ini menyimpulkan bahwa Palangka Raya memiliki peluang emas untuk menjadi pusat logistik dan hilirisasi ringan guna menopang IKN. Namun, semua itu hanya bisa terwujud jika tata kotanya—terutama kawasan bantaran sungai—sudah tertata dengan apik dan bebas dari masalah klasik seperti banjir dan sanitasi buruk.
“Modernisasi Palangka Raya adalah keniscayaan. Tapi, identitas sebagai kota sungai yang selaras dengan suku Dayak harus tetap menjadi roh utama dari pembangunan itu sendiri,” pungkas Bung Suprapto.
Palangkaraya memiliki ciri khas yang sangat unik. Sebagai kota dengan luas wilayah administratif terbesar di Indonesia (sekitar 2.853 $km^2$ ), ia memiliki sekaligus potensi tantangan besar jika ingin diposisikan sebagai pusat industri penopang Kalimantan Tengah maupun Ibu Kota Nusantara (IKN).
Berikut analisis mendalam berdasarkan aspek luasan dan topografinya:
1. Analisis Luasan Wilayah
Secara kuantitas, Palangkaraya sangat mumpuni, namun secara kualitas lahan, terdapat batasan penting:
-
Ketersediaan Lahan: Luasnya wilayah memungkinkan pengembangan kawasan industri terpadu tanpa harus menggusur pemukiman yang padat.
-
Zonasi Hijau: Sebagian besar wilayah Palangkaraya masih berupa kawasan hutan dan lahan gambut. Pengembangan industri skala besar harus sangat penempatan agar tidak merusak aturan ekologi dan paru-paru dunia.
-
Buffer Zone: Luasnya wilayah memungkinkan adanya jarak aman antara kawasan industri dengan pusat pemerintahan dan pemukiman, yang penting untuk kenyamanan kota jasa.
2. Analisis Topografi dan Geologi
Ini adalah faktor krusial yang menentukan jenis industri apa yang cocok:
-
Dominasi Laminasi Gambut: Sebagian besar topografi Palangkaraya adalah dataran rendah dengan lapisan gambut tebal.
-
Risikonya: Membangun pabrik berat di atas gambut membutuhkan biaya konstruksi (fondasi) yang sangat mahal.
-
Kerentanan: Karakteristik lahan ini rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), yang dapat melumpuhkan logistik industri akibat kabut asap.
-
-
Ketinggian: Secara umum berada di ketinggian 5-50 meter di atas permukaan laut. Area utara cenderung lebih berbukit dan bertanah keras (lebih cocok untuk konstruksi berat) dibandingkan area selatan yang rawa/gambut.
3. Kesesuaian sebagai Penopang IKN & Kalteng
Jika pertanyaannya adalah “Sesuai atau tidak?”, definisinya adalah Sesuai, namun dengan spesialisasi industri tertentu (Niche Industry). Palangkaraya kurang cocok untuk industri manufaktur berat atau otomotif, tetapi sangat strategis untuk:
-
Industri Pengolahan Hasil Alam (Agroindustri): Menjadi pusat hilirisasi produk unggulan Kalteng (sawit, karet, kayu) sebelum dikirim ke IKN atau diekspor.
-
Industri Logistik dan Pergudangan: Mengingat posisinya di Kalimantan tengah, ia bisa menjadi “Hub” distribusi barang menuju IKN.
-
Industri Kreatif & Digital: Karena topografinya yang datar dan udaranya yang (jika tidak asap) bersih, kota ini cocok dikembangkan sebagai pusat penelitian, pusat data, atau pendidikan yang mendukung IKN.
Masukan dan Pertimbangan Strategis
| Aspek | Pertimbangan |
| Infrastruktur Konektivitas | Palangkaraya tidak memiliki pelabuhan laut dalam (hanya pelabuhan sungai). Ini adalah tantangan besar bagi industri yang mengandalkan volume ekspor-impor yang besar. |
| Isu Lingkungan | Pengembangan industri harus berbasis Industri Hijau . Mengingat sensitivitas lahan gambut, industri yang menghasilkan polusi udara/tanah tinggi akan sangat berisiko. |
| Energi | Industri membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan besar. Diperlukan investasi di sektor energi terbarukan (seperti biomassa) sebelum membuka kawasan industri. |
| Keseimbangan Fungsi | Palangkaraya didesain Bung Karno dengan visi kota yang tertata. Jangan sampai industri manufaktur merusak estetika dan tata kota yang asri. |
Kesimpulan
Palangkaraya lebih ideal menjadi “Pusat Layanan, Logistik, dan Hilirisasi Ringan” daripada menjadi “Pusat Industri Berat”. Untuk menopang IKN, Palangkaraya dapat mengambil peran sebagai Buffer Zone Logistik dan Pusat Olah Data/Pendidikan , sementara industri manufaktur berat mungkin lebih efektif diarahkan ke daerah pesisir seperti Kotawaringin Barat atau Pulang Pisau yang memiliki akses pelabuhan lebih memadai.@aruskahayan.com
