WWW.ARUSKAHAYAN.COM, PALANGKARAYA,- Anggota DPD RI asal Kalimantan Tengah, Habib Said Abdurrahman, menyatakan kekecewaan mendalam terhadap kinerja Perusahaan Daerah (Perusda) di wilayah Kalimantan Tengah. Hal ini menyusul tren kenaikan harga minyak goreng yang kian merangkak naik dan membebani masyarakat.

Menurut Habib Said, sebagai daerah yang menjadi salah satu lumbung kelapa sawit terbesar di Indonesia, Kalteng seharusnya tidak mengalami kendala lonjakan harga minyak goreng jika Perusda mampu mengelola potensi daerah dengan maksimal.
Kritik Minimnya Terobosan
Habib Said menilai selama ini Perusda terkesan “jalan di tempat” dan tidak memiliki langkah konkret dalam mengantisipasi gejolak harga pangan, khususnya minyak goreng.
”Saya sangat kecewa. Kita ini daerah penghasil sawit, tapi kenapa harga minyak goreng di pasar justru terus naik dan menyulitkan warga? Di mana peran Perusda selama ini?” tegasnya kepada awak media.
Dorong Pembangunan Pabrik Sendiri
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa solusi jangka panjang untuk menekan harga adalah dengan kemandirian produksi. Ia mendesak pemerintah daerah melalui Perusda untuk segera membangun pabrik pengolahan minyak goreng sendiri di Kalteng.
Dengan adanya pabrik milik daerah, rantai distribusi bisa dipangkas dan harga jual di tingkat konsumen lokal dapat dikontrol tanpa harus bergantung sepenuhnya pada mekanisme pasar global atau pasokan dari luar daerah.
- Tujuan utama: Menekan harga pasar agar tetap terjangkau.
- Dampak ekonomi: Menciptakan lapangan kerja baru bagi putra daerah.
- Ketahanan pangan: Memastikan stok selalu tersedia di Bumi Tambun Bungai.
”Harusnya Perusda itu buat pabrik. Kita punya bahan bakunya melimpah. Kalau kita produksi sendiri, saya yakin harga bisa ditekan dan masyarakat tidak perlu menjerit setiap kali ada kenaikan harga nasional,” tambahnya.
Habib Said Abdurrahman berharap pemerintah provinsi segera mengevaluasi jajaran direksi Perusda dan mulai serius merancang hilirisasi industri sawit demi kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah.
