WWW.ARUSKAHAYAN.COM, BASARANG,- Majelis Pecinta Rasul, Desa Maluen, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas bergelombang dipadati jemaah, untuk menghadiri peringatan Haul Al-Habib Umar bin Husien Balghaist (Sampit) pada Jumat malam (09/01/2026).

.Acara yang berlangsung khidmat ini menjadi magnet spiritual bagi masyarakat Kapuas dan sekitarnya. Sejak sore hari, jamaah sudah mulai berdatangan untuk mengikuti rangkaian ibadah yang disusun sedemikian rupa.
Rangkaian Acara Penuh Keberkahan
Kegiatan diawali dengan salat Maghrib berjamaah , yang kemudian dilanjutkan dengan zikir bersama menunggu waktu Isya. Usai pelaksanaan salat Isya berjamaah , suasana semakin syahdu saat lantunan selawat dan pembacaan Maulid Simthuddurrar (Habsyi) mulai menggema, memuji keagungan Rasulullah SAW serta mengenang jasa mendiang Habib Umar bin Husien Balghaist.

Kemeriahan acara semakin terasa dengan hadirnya tujuh rombongan Maulid Habsyi dari berbagai wilayah yang secara bergantian menyemarakkan suasana dengan tabuhan terbang dan syair-syair pujian yang menyentuh hati.Kehadiran Tokoh Agama dan Habaib.
Acara ini ditampilkan langsung oleh tokoh-tokoh besar, di antaranya:
- Habib Ismail Bin Yahya Balghaits (Pendiri Majelis Pecinta Rasul)
- Habib Said Abdurrahman Balghaits (Penasehat)
- Habib Said Abdurrahman Assegaf (Penceramah)
- Habib M. Zen Balghaits
- Habib Jiddan Balghaits
- Habib Said Alwy Balghaits
- Guru Fauziannor
- Guru Amat Kupang Bersih
Selain nama-nama di atas, tampak hadir pula deretan ulama, tokoh masyarakat, dan para pencinta dzurriyat Rasul yang datang dari berbagai penjuru Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Pesan Kedamaian dan Ukhuwah
Dalam perayaannya, pihak panitia menyampaikan bahwa haul ini bukan sekedar seremoni tahunan, melainkan ajang untuk mempererat tali silaturahmi (ukhuwah islamiyah) dan meneladani kegigihan para habaib dalam menyebarkan syiar Islam yang penuh kasih sayang di tanah Kalimantan.
Dalam tausiyahnya, Habib Said Abdurrahman Assegaf menekankan bahwa peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan momentum spiritual paling krusial bagi umat Islam, yakni turunnya perintah salat lima waktu.

Ujian Kesabaran di Balik Peristiwa Agung
Habib menjelaskan bahwa sebelum perjalanan Isra Mi’raj terjadi, Rasulullah SAW berada dalam fase kehidupan yang sangat berat. Beliau baru saja kehilangan dua sosok utama yang menjadi pilar pendukung dakwahnya.
-
Siti Khadijah RA: Istri tercinta yang selalu mendukung perjuangan beliau dengan jiwa dan harta.
-
Abu Thalib: Paman beliau yang menjadi pelindung utama dari gangguan kaum Quraisy.
“Tahun tersebut dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Allah SWT kemudian ‘menghibur’ Rasulullah dengan perjalanan Isra Mi’raj untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya,” ujar Habib Said Abdurrahman di hadapan para jamaah.

Inti Perjalanan: Perintah Salat 5 Waktu
Lebih lanjut, beliau memaparkan bagaimana proses Rasulullah menerima perintah salat langsung dari Allah SWT. Perintah ini berbeda dengan ibadah lainnya yang cukup melalui wahyu malaikat Jibril.
“Salat adalah ‘oleh-oleh’ terpenting dari langit. Ini adalah satu-satunya ibadah yang diterima langsung oleh Rasulullah dari Allah SWT di Sidratul Muntaha. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan salat dalam kehidupan seorang mukmin,” tegasnya.
Di akhir ceramah, Habib mengajak seluruh pecinta Rasul di Majelis Al Wasilah untuk meningkatkan kualitas salat sebagai bentuk rasa syukur dan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan umat dan keberkahan bagi masyarakat Kabupaten Kapuas, khususnya di wilayah Basarang.
”Kehadiran ribuan jamaah dan banyaknya ulama yang hadir menjadi bukti kecintaan kita kepada para wali Allah dan dzurriyat Nabi,” ujar salah satu perwakilan jamaah di lokasi.
Acara ditutup dengan doa bersama dan foto bersama sekaligus disertai acara do’a bersama untuk keselamatan seluruh umat Rasulullah saw.545
