WWW.ARUSKAHAYAN.COM, PURUKCAHU.COM, – Kabut asap tebal imbas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali mengepung kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, Kalimantan Tengah. Menjawab situasi darurat kesehatan tersebut, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Murung Raya turun langsung ke jalan menggelar aksi kemanusiaan pada Jumat (16/10/2026).
Aksi yang dipusatkan di landmark Kota Puruk Cahu, Bundaran Batu Bara, tersebut ditandai dengan pembagian 1.000 paket masker dan vitamin gratis secara masif kepada para pengguna jalan, pedagang kaki lima, hingga pengemudi transportasi lokal.
DAS Barito dalam Cengkeraman Karhutla
Kondisi kualitas udara di wilayah DAS Barito—yang meliputi Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, dan Barito Timur—mengalami penurunan drastis dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data pantauan BMKG dan Posko Terpadu Penanganan Karhutla Kalteng:
Lonjakan Titik Panas (Hotspot): Tercatat peningkatan signifikan titik panas di DAS Barito yang memicu pekatnya kabut asap menjelang pagi dan sore hari.
Penurunan Kualitas Udara: Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kawasan terdampak sempat menyentuh kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat, dengan konsentrasi PM2.5 yang melampaui ambang batas aman.
Ancaman ISPA: Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) reported meluas di fasilitas kesehatan tingkat pertama, terutama menyerang kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Jarak Pandang Terbatas: Di beberapa titik perlintasan darat dan sungai wilayah Barito, jarak pandang sempat merosot hingga di bawah 1.000 meter, membahayakan mobilitas warga.
Aksi Nyata, Bukan Sekadar Narasi
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, PMII Murung Raya mengambil langkah taktis perlindungan kesehatan masyarakat. Aksi kemanusiaan ini ditegaskan sebagai bentuk komitmen moral kader pergerakan.
Azhar, selaku Koordinator Lapangan Pembagian Masker, menegaskan bahwa kepedulian terhadap masyarakat harus menjadi bagian utama dari identitas dan jiwa setiap kader PMII. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh terkungkung dalam ruang wacana semata.

“Bagi kami, kader PMII harus memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya. Ketika masyarakat menghadapi ancaman karhutla dan dampak kabut asap di DAS Barito ini, kita tidak boleh hanya diam atau sekadar berbicara. Kita harus hadir, bergerak, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat,” tegas Azhar di sela-sela aksi.
“Pembagian masker dan vitamin ini mungkin terlihat sederhana, tetapi kami berharap dapat membantu menjaga daya tahan tubuh masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa PMII selalu berupaya hadir di tengah persoalan rakyat,” tambahnya.
Azhar juga menekankan bahwa gerakan mahasiswa era kini harus dibuktikan melalui tindakan konkret yang langsung dirasakan manfaatnya oleh publik, terutama saat menghadapi persoalan lingkungan dan bencana kemanusiaan.
Kolaborasi dan Kesadaran Bersama
Bagi PMII Murung Raya, aksi ini bukan sekadar agenda rutin kepemudaan, melainkan pengamalan nilai dasar pergerakan yang menempatkan keberpihakan kepada rakyat di posisi tertinggi.
Bencana Karhutla di kawasan DAS Barito dibaca bukan lagi sebatas Isu Lingkungan Hidup, melainkan Krisis Kemanusiaan yang membutuhkan sinergi lintas sektor—mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, Satgas Karhutla, organisasi kemasyarakatan, hingga elemen mahasiswa.
Melalui aksi pembagian 1.000 masker dan vitamin ini, PMII Murung Raya menyampaikan pesan kuat: Penanganan Karhutla membutuhkan penegakan hukum pencegahan yang tegas sekaligus solidaritas sosial yang kuat.
PMII Murung Raya menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu lingkungan di tanah Tira Tangka Balang, sembari memastikan keberadaan mahasiswa selalu membawa manfaat dan solusi nyata bagi masyarakat.
